LIMAPULUHKOTA — Sebagai wujud dukungan terhadap program pemerintah dibidang ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan anggota, kepengurusan Pengurus Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Kabupaten Kampar melakukan kunjungan ke Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU HPT) Padang Mengatas di Jalan Payakumbuh-Lintau, Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat, Kamis (22/10/2026).
Kedatangan rombongan idipimpin langsung oleh Ketua JMSI Kampar Hj Netty Mindrayeni, SSos, MSi, Penasehat Akhir Yani, SE dan sejumlah anggota disambut oleh Bidang Penjualan dan Humas BPTU HPT Padang Mengatas Rahmat Fikri dan sejumlah staf.
Ketua JMSI Kampar Netty Mindrayeni mengatakan, kunjungan ini juga sebagai wadah untuk meningkatkan pengetahuan tentang dunia peternakan, memanfaatkan potensi perikanan dan mengembangkan cakrawala berpikir pengurus dan anggota JMSI Kampar.
Dia mengatakan, secara pribadi, ia dan beberapa anggota JMSI Kampar sudah lama tertarik dengan potensi peternakan dan merencanakan akan berkunjung ke salah satu balai milik Kementerian Pertanian ini.
Menurut Netty, bukan tidak mungkin, dengan adanya kunjungan ini dan komunikasi lanjutan, JMSI Kampar akan menindaklanjuti dengan kerjasama dan mengembangkan usaha peternakan.
Mendengar pemaparan mengenai sejarah balai, populasi sapi, rencana penambahan ternak, serta kelengkapan fasilitas, Ketua JMSI Kampar Hj. Netty Mindrayani, M.Si., bersama jajaran pengurus menunjukkan antusiasme terhadap potensi pengembangan peternakan sapi unggul.
Rombongan juga menyampaikan apresiasi atas pengelolaan peternakan dan capaian tata kelola keuangan BPTU HPT Padang Mengatas. Bagi JMSI Kampar, kunjungan tersebut bukan sekadar silaturahmi, tetapi juga kesempatan untuk memperluas wawasan dan menggali potensi yang dapat menjadi referensi bagi pengembangan sektor peternakan di Kabupaten Kampar.
Peluang pengembangan ternak di daerah membutuhkan perencanaan yang terukur, termasuk kesiapan lahan, ketersediaan pakan, pemilihan bibit, modal, tenaga terampil, serta pendampingan teknis. Karena itu, pengalaman dari balai yang memiliki sejarah panjang dan fasilitas peternakan terintegrasi dapat menjadi bahan pembelajaran.
Antusiasme rombongan membuka ruang pemikiran untuk menelaah lebih jauh peluang pengembangan peternakan sapi di Kampar, dengan tetap memperhatikan kondisi dan kebutuhan daerah.
Sementara itu, Bidang Penjualan dan Humas BPTU HPT Padang Mengatas Rahmat Fikri mengatakan, balai ini usianya telah melampaui satu abad. Berawal dari kawasan penggembalaan kuda pada zaman penjajahan Belanda pada 1916.
Kawasan ini telah berkembang menjadi pusat pembibitan ternak dan pengelolaan hijauan pakan ternak di bawah Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Di atas kawasan seluas 280 hektare, balai ini mengelola sekitar 1.300 ekor sapi dan merencanakan penambahan 600 ekor lagi. Jika seluruh penambahan terealisasi, populasi ternaknya berpotensi mencapai 1.900 ekor.
Potensi peternakan tersebut menjadi salah satu perhatian Pengurus Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Kabupaten Kampar saat melakukan kunjungan ke BPTU HPT Padang Mengatas.
Rahmat Fikri juga menjelaskan mengenai sejarah, populasi ternak, jenis sapi, serta fasilitas pendukung pengembangan peternakan.
Kunjungan itu juga mengungkap sisi lain BPTU HPT Padang Mengatas. Tidak hanya mengelola ribuan sapi, lembaga ini turut mencatatkan prestasi melalui tiga penghargaan di bidang tata kelola keuangan pemerintah. Perpaduan antara sejarah panjang, pengembangan peternakan, fasilitas terintegrasi, dan prestasi pengelolaan keuangan menjadi sorotan dalam kunjungan tersebut.
Kawasan seluas 280 hektare tersebut memiliki peran strategis dalam mendukung pengembangan peternakan, khususnya melalui pengelolaan ternak dan fasilitas yang menunjang kegiatan pembibitan.
Rahmat Fikri memaparkan bahwa sapi yang dikelola terdiri atas sejumlah jenis, yakni limousin, belgian blue, sapi pesisir, friesian holstein, dan simmental.
Keberagaman jenis sapi tersebut memperlihatkan luasnya aspek pengelolaan peternakan yang membutuhkan penanganan sesuai karakteristik ternak, tujuan pembibitan, ketersediaan pakan, serta dukungan sumber daya manusia.
Dengan populasi sekitar 1.300 ekor dan rencana penambahan 600 ekor, pengelolaan pakan, pemeliharaan, kesehatan, serta kapasitas fasilitas menjadi bagian penting untuk mendukung pengembangan peternakan secara berkelanjutan.
Ada Tambahan 1.300 Ekor Sapi
Rencana penambahan 600 ekor sapi menjadi salah satu informasi yang menarik perhatian rombongan JMSI Kampar.
Apabila seluruh penambahan terealisasi, jumlah ternak yang dikelola berpotensi meningkat menjadi sekitar 1.900 ekor. Peningkatan populasi tersebut tentu membutuhkan perencanaan yang matang, mulai dari ketersediaan pakan dan air, kapasitas kandang, kesehatan ternak, hingga pengelolaan lahan.
BPTU HPT Padang Mengatas memiliki sejumlah fasilitas pendukung yang tercantum pada papan informasi kawasan, antara lain farm sapi eksotik, farm sapi Pesisir, padang penggembalaan, bank pakan, gudang pakan, kebun hijauan pakan ternak, dan kebun bibit hijauan pakan ternak.
Selain itu, tersedia fasilitas bull treatment dan laboratorium semen segar yang menunjang kegiatan teknis peternakan.
Keberadaan fasilitas tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan peternakan tidak cukup hanya mengandalkan jumlah ternak. Kualitas bibit, manajemen pemeliharaan, ketersediaan hijauan, serta dukungan teknis harus berjalan beriringan.
Punya Taman Edukasi Peternakan Terintegrasi
Salah satu fasilitas menarik di BPTU HPT Padang Mengatas adalah Taman Edukasi Peternakan Terintegrasi. Kawasan ini dilengkapi mini ranch, kandang showroom, forage show, serta fasilitas edukasi pengolahan limbah peternakan.
Kehadiran sarana tersebut membuka kesempatan untuk mengenalkan pengelolaan peternakan secara lebih luas, mulai dari pemeliharaan ternak dan pengelolaan hijauan pakan hingga pemanfaatan limbah.
Pengolahan limbah menjadi bagian penting dalam mendorong peternakan yang lebih efisien dan memperhatikan aspek lingkungan. Sementara itu, fasilitas edukasi dapat menjadi sarana pembelajaran bagi masyarakat, pelajar, maupun pihak yang ingin mengenal lebih dekat sistem peternakan terintegrasi.
Di kawasan tersebut juga terdapat area perkantoran, masjid, mess, bengkel, aula, kafe serta fasilitas pendukung lainnya. Papan informasi balai turut mencantumkan Mess Bung Hatta/Museum TT dan layanan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID). Kelengkapan tersebut menjadi gambaran bahwa kegiatan peternakan didukung oleh fasilitas operasional, teknis, edukatif, dan pelayanan informasi.(ran)
