PEKANBARU – Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai (UP) menggelar Simposium Internasional 2026 yang menghadirkan sejumlah perwakilan mitra internasional di Hotel Pangeran, Pekanbaru, Kamis (8/10/2026).
Simposium ini dibuka oleh Rektor Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai (UP) Prof Dr Amir Luthfi yang ditandai dengan pemukulan gong.
Simposium Internasional Universitas Pahlawan 2026 mengangkat tema “Bridging Fragmentation: The Role of Botanical Gardens and Campus Preservation Areas as Biodiversity Corridors Supporting Tropical Rainforest Heritage of Sumatra (TRHS)”. Sebelum presentasi dari para pemateri, kegiatan diselingi dengan deklarasi bersama tentang climate action, biodiversity conservation and strengthening biodiversity corridors.
Sejumlah perwakilan mitra internasional yang menyampaikan presentasi di antaranya Dr Robinson Alastair dari Royal Botanic Gardens Victoria, Australia, Theo Damen dari Balmonte & Arboretum, Belanda, Dr Kate Delaporte dari Waite Arboretum, Adelaide University, Australia, Nur Nisha Binti Moh Idrus dari Taman Botani Putrajaya, Malaysia dan Prof Dr Charles Cannon utusan Xishuangbanna Botanical Garden, Cina.
Rektor UP Prof Amir Luthfi dalam sambutannya menegaskan pentingnya peran kebun raya dan kawasan preservasi kampus dalam menjaga keanekaragaman hayati serta mendukung pelestarian Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatra atau Tropical Rainforest Heritage of Sumatra (TRHS).
Menurut Prof Amir, persoalan lingkungan dan keanekaragaman hayati tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi maupun satu pemerintahan. Dibutuhkan kolaborasi lintas perguruan tinggi, pemerintah, lembaga penelitian, pengelola kebun raya, masyarakat, hingga mitra internasional.
“Ketika sebuah perguruan tinggi memilih untuk membangun dan mengelola kebun raya, maka perguruan tinggi tersebut juga memilih untuk mengambil bagian dalam tanggung jawab yang jauh lebih besar,” cakap Prof. Amir.
Ia menjelaskan, tanggung jawab tersebut mencakup perlindungan keanekaragaman hayati, edukasi kepada masyarakat, dukungan terhadap penelitian, serta kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan.
Prof Amir menambahkan, Universitas Pahlawan membangun visinya berdasarkan tiga nilai utama, yakni mutu, kewirausahaan, dan pembangunan berkelanjutan. Ketiga nilai tersebut menjadi landasan bagi universitas untuk terus memperkuat komitmen terhadap pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati.
Universitas Pahlawan Disebut Satu-satunya PTS yang Kelola Kebun Raya
Dalam sambutannya, Prof Amir juga menyampaikan bahwa Universitas Pahlawan baru-baru ini mendapatkan pengakuan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai perguruan tinggi swasta yang mengelola kebun raya.
Menurutnya, pengakuan tersebut bukan sekadar sebuah pencapaian, tetapi sekaligus menjadi tanggung jawab besar bagi Universitas Pahlawan.
“Kami bersyukur mendapatkan pengakuan tersebut. Namun, bagi kami, pengakuan itu bukan sekadar sebuah pencapaian yang patut dirayakan. Lebih dari itu, pengakuan tersebut merupakan sebuah tanggung jawab,” katanya.
Ia menambahkan, keberadaan Kebun Raya Universitas Pahlawan diharapkan tidak hanya menjadi kawasan konservasi, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang pendidikan, penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan, serta sarana edukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan.
Berkaitan tema simposium, Bridging Fragmentation dalam simposium tersebut mencerminkan tantangan lingkungan yang semakin kompleks akibat meningkatnya aktivitas manusia dan pembangunan.
Menurutnya, berbagai ekosistem seperti hutan, sungai, habitat satwa liar, serta kawasan tumbuhan pada dasarnya memiliki keterkaitan yang erat. Namun, perkembangan aktivitas manusia dapat menyebabkan habitat menjadi semakin terfragmentasi.
Dalam kondisi tersebut, kebun raya dan kawasan preservasi kampus dinilai memiliki posisi strategis sebagai ruang konservasi sekaligus koridor keanekaragaman hayati.
“Kebun raya dan kawasan preservasi kampus dapat menjadi ruang konservasi, laboratorium hidup untuk penelitian dan pendidikan, serta tempat bagi masyarakat untuk belajar dan menumbuhkan apresiasi terhadap keanekaragaman hayati,” jelasnya.
Ia menegaskan, keberadaan kebun raya juga dapat menjadi jembatan antara habitat yang terfragmentasi, antara pengetahuan dan aksi, perguruan tinggi dan masyarakat, serta berbagai institusi lintas negara.
Prof. Amir menegaskan bahwa sebagai perguruan tinggi, Universitas Pahlawan berupaya melengkapi berbagai upaya pemerintah dan lembaga nasional melalui pendidikan, penelitian, kemitraan, serta aksi nyata di bidang lingkungan.
Dorong Deklarasi Bersama
Lebih lanjut, Prof Amir berharap Simposium Internasional Universitas Pahlawan 2026 tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi mampu menghasilkan langkah konkret dan kolaborasi berkelanjutan.
Salah satu hasil yang diharapkan adalah lahirnya deklarasi bersama yang mencerminkan komitmen para peserta terhadap pelestarian keanekaragaman hayati, perlindungan lingkungan, serta penguatan kerja sama antara kebun raya, perguruan tinggi, lembaga penelitian, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan.
“Kami berharap simposium ini dapat menghasilkan sebuah deklarasi bersama yang mencerminkan komitmen kita terhadap pelestarian keanekaragaman hayati, perlindungan lingkungan, serta penguatan kolaborasi,” ungkapnya.
Ia berharap simposium tersebut menjadi ruang yang mempertemukan gagasan dengan aksi nyata, sekaligus memperkuat jejaring kerja sama dalam menjaga kekayaan alam Sumatera.
“Semoga simposium ini menjadi ruang dimana gagasan bertemu dengan aksi, institusi menjadi mitra, dan fragmentasi mulai dijembatani,” pungkas Prof Amir.
Simposium Internasional Universitas Pahlawan 2026 diharapkan menjadi salah satu momentum penting dalam memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap konservasi keanekaragaman hayati dan pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam mendukung perlindungan Warisan Hutan Hujan Tropis Sumatera.(ran)
