KUOK – Salah satu festival budaya lokal di Kabupaten Kampar yang cukup unik dan mesti menjadi perhatian adalah pacu tongkang melawan arus.
Iven ini digelar setiap tahun di Desa Persiapan Pulau Belimbing, Kecamatan Kuok, Kabupaten Kampar-Riau.
Tradisi ini juga menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya lokal dan pengembangan Desa Pulau Belimbing sebagai desa wisata di Kabupaten Kampar.
Festival tradisional ini cukup unik karena beberapa tongkang atau sampan yang didayung sebanyak 13 orang setiap tongkangnya saling berlomba menuju garis finish melawan derasnya arus Sungai Kampar.
Pacu tongkang melawan arus biasanya digelar setiap menjelang masuknya bulan suci Ramadan yang diakhiri dengan mandi balimau bakasai. Seiring perkembangan teknologi digital, iven ini telah mendapat perhatian masyarakat di luar Kecamatan Kuok.
Kegiatan ini memperlihatkan simbol kekompakan, semangat, kerja keras, kebersamaan antar pedayung serta kekompakan masyarakat sebagai pendukung.
Berkunjung ke Desa Pulau Belimbing disaat gelaran Pacu Tongkang Melawan Arus tak kalah serunya. Selain menikmati kemeriahan festival, pengunjung juga bisa melihat dari dekat rumah adat tradisional Kampar yang juga disebut Rumah Lontiok yang usianya sudah puluhan bahkan ratusan tahun dan masih terpelihara sampai saat ini.
Rumah ini berbentuk panggung dengan ciri khas atap melengkung ke atas seperti perahu atau tanduk kerbau. “Lontiok” berarti lentik, menggambarkan bentuk atapnya, dan sering disebut juga sebagai Rumah Lancang Kuning.
Di sisi lain, desa ini juga menjadi salah satu tujuan penikmat kuliner makanan khas Kampar yang selalu diburu yaitu makan ikan “kupiek ndak betulang”. Ada beberapa warung makan yang menyajikan aneka khas masakan Kampar di desa ini.
Penjabat Kepala Desa Persiapan Pulau Belimbing Dodi Osman kepada MANDIRINEWS.com, Kamis (9/4/2026) mengungkapkan, kegiatan Pacu Tongkang Melawan Arus mulai digelar dari zaman dahulu kala. Saat itu sampannya
sampannya berbentuk jalu/jalur atau disebut juga elek yang terbuat dari satu batang kayu. Setiap sampan terdiri dari dua orang pedayung. Iven ini juga diadakan setiap tahun.
Dalam perkembangannya, kayu susah didapat, maka sampannya dibuat dari kayu yang sudah diolah menjadi papan,dan dirangkai menjadi satu sampan. “Sekarang, sampan seperti ini dinamakan sampan tongkang. Maka, hasil musyawarah dengan masyarakat, iven ini dikasih nama Pacu Tongkang Melawan Arus,” terang Dodi.
Setiap tongkang, pesertanya terdiri dari 15 orang. Dari 15 orang ini yang diturunkan sebanyak 13 orang dan 2 orang menjadi pemain cadangan.
Berdasarkan catatan beberapa tahun terakhir, pesertanya tidak hanya berasal dari Kenegerian Kuok saja tetapi datang dari berbagai daerah, diantarnya dari Buluh Cina, Bangkinang, Kampa, Ganting Kecamatan Salo dan lainnya.
Dodi berharap iven ini menjadi pusat perekonomian masyarakat dan kedepan hadiah bagi para juara bisa meningkat dengan masuknya beberapa sponsor dan pendukung. “Karena dengan hadiah yang meningkat, daya minat peserta dan penonton semakin meningkat,” ulas Dodi.
Dodi juga mengakui bahwa dukungan dari pemerintah daerah (Pemda) masih kurang dan ia berharap kedepan Pemerintah Kabupaten Kampar menjadikan iven ini masuk dalam kalender pariwisata Kabupaten Kampar.(hld)
